Mau punya domain sendiri gratis? Check disini...

Ngelantur

Entah apakah seharusnya istilah yang benar adalah niat cyber atau yang lainnya, tapi yang ingin mamang kemukakan disini adalah betapa keberadaan internet telah membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah.  Lebih mudah dalam artian, cukup dengan niat – maka apa yang dimaksud akan lebih cepat dan mudah untuk diwujudkan di dunia maya atau dunia cyber.  Kalau mamang beri judul artikel ini “Niat Maya” atau “Maya Niat” nanti disangkanya cerita mengenai Neng Maya yang lagi niat shaum wajib Ramadhan :)

Contohnya begini : kalau dulu seseorang melihat iklan atau terpapar informasi apakah itu melalui media cetak, media televisi, atau apapun selain media cyber, maka jika seseorang tersebut tertarik atau berniat untuk menindaklanjuti paparan informasi tersebut maka yang bersangkutan perlu usaha dan waktu lebih sehingga terkadang niat saja tidaklah cukup untuk menjamin tingkat keberhasilannya.  Halah – teori – susah amat ya.  Contohnya begini (ulangan) : Ini sih kasus yang paling umum aja ya, jangan dulu yang komplek. Si A tadi pagi melihat iklan lagu baru band dorockdock di tivi.  Si A tertarik untuk membeli CD lagu baru tersebut.  Maka si A perlu untuk berangkat ke toko CD terdekat untuk kemudian membeli CD tersebut.  Jadi dalam prosesnya akan ada beberapa niat tambahan yang perlu dilakukan untuk menjadikan iklan tersebut berhasil dan si A mendapatkan apa yang dia inginkan.  Niat untuk mandi, gosok gigi, pakai baju, naik angkot, turun di toko CD, beli CD, dst.

Lain halnya di jaman cyber dot com atau dunia maya, jika si A melihat iklan lagu baru band dorockdock misalnya di banner nya mangmemed dot com, maka si A tinggal mengklik iklan tersebut dan lagu tersebut akan terdownload ke komputer si A.  Gak perlu mandi, gak perlu gosok gigi, gak perlu nyegat angkot, dsb.  Cukup niat kepingin punya lagu tersebut dan klik, beres.

Sialnya, kemudahan ini juga yang menjadi masalah ketika niat tersebut adalah niat yang bisa dinilai negatif – misalnya penyalahgunaan pornografi. 
Lanjutkan membaca Cyber Niat

Akhir-akhir ini mamang memperhatikan sering diadakan kontes atau lomba bagi remaja atau pemuda-pemudi yang disponsori oleh perusahaan-perusahaan besar. Katakanlah kontes band, musik, bakat seni dan banyak lagi ajang lomba kreatifitas lainnya. Indonesian Idol, Indonesia mencari bakat, Indonesia ini, Indonesia itu, dsb.

Yang agak menggelitik mamang adalah kenapa sampai saat ini belum ada kontes semacam itu (yang disponsori oleh perusahaan-perusahaan besar) yang mengutamakan kreatifitas yang lebih produktif di dunia ‘nyata’.

Bukan berarti mamang meremehkan kreatifitas di bidang musik, atau bidang seni lainnya – tapi apakah akan lebih mendidik dan akan sangat bermanfaat apabila kontes-kontes tersebut diadakan dalam mencari bibit kreatifitas dan ide dari pemuda-pemudi yang berkenaan dengan realita kehidupan sehari-hari. Dan pemenang kontes tersebut – katakanlah untuk sepuluh besar akan mendapatkan sponsor untuk merealisasikan ide nya.

Contohnya, misalkan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia mengadakan kontes tahunan bagi pelajar dan mahasiswa mengenai ide dan konsep wirausaha yang kriteria kriteria penilaiannya adalah berdasarkan originalitas ide, penyusunan rencana usaha, dsb. Selain memungkinkan realisasi dari ide-ide tersebut, pemenang lomba akan diberi hadiah beasiswa, misalnya.

Bukan tidak mungkin ide-ide tersebut nantinya akan dihimpun dalam suatu badan usaha anak perusahaan. Jadi selain menjadi suatu kontes, hasilnya akan membuka lapangan kerja dan bermanfaat bagi banyak orang.

Akhirnya, manfaat akan lebih menyentuh banyak orang.

Incoming search terms for the article:

Smart Telecom | Coba Smart, Ngga Suka Balikin…
Pertamanya bingung juga, maksudnya bagaimana.  Apa dengan modal 80rb rupiah bisa dapet hape + perdana + pulsa 50rb?

Rupanya ini adalah salah satu cara Smart Telecom untuk menarik konsumen potensial.  Memang dalam menjual layanan seperti halnya layanan komunikasi suara dan data wireless ini perlu kiat khusus dalam membangun branding image nya.  Saya pribadi agak menyukai cara bisnis Smart yang sepertinya mendahulukan kepuasan pelanggan daripada marketing yang jor-joran.  Jadi alokasi dana untuk pemasarannya bisa lebih tepat guna langsung dapat membeli perhatian dari konsumen dan calon konsumen daripada habis dipakai untuk biaya perang kampanye marketing yang akhirnya toh akan dibebankan kembali ke konsumen.

Salut kepada Smartfren atas keberaniannya mencoba cara maketing seperti ini di Indonesia.  Semoga mekanisme dan prasarana nya benar-benar siap dan jangan sampai “disalahgunakan” oleh konsumen nakal kita.

Incoming search terms for the article:

Tags:

Menoyor, yang berasal dari kata toyor yang diperkirakan merupakan turunan dari Bahasa Jawa (mengingat yang mempopulerkan adalah Kak Seto Mulyadi) bisa diartikan dengan mendorong dengan keras.  Jadi tidak sampai memukul, tapi tidak juga cuma sekedar mendorong.  Mungkin padanan dalam Bahasa Sunda nya adalah ngadegungkeun dari kata degung.  Kalau anak-anak suka membandel, biasanya (ini bukan kebiasaan yang baik lho!) suka di ‘didegungkan’ kepalanya atau ‘ditoyor’.  Jadi bukan dijitak atau apalagi ditonjok, tapi didorong dengan sentakan yang cukup keras.

Kata toyor dan menoyor ini mendadak populer sejak munculnya berita seorang anak yang ditoyor kepalanya oleh (yang katanya) anggota Paspampres sehabis bersalaman dengan Pak Presiden pada acara Hari Anak Nasional kemarin.

Beritanya bisa dibaca disini

Incoming search terms for the article:

Tags: ,

Mengamati kejadian “tabung gas 3KG meledak” yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media massa, mamang jadi prihatin juga. Sebetulnya musibah-musibah yang terjadi apakah itu ledakan akibat kebocoran gas (sebetulnya bukan tabungnya yang meledak), kebakaran akibat “hubungan pendek arus listrik”, kecelakaan jalan raya, kecelakaan kerja, semua terkadang diakibatkan oleh kesalahan kecil yang seharusnya bisa dihindari.

DSCF1163

Misalnya, mengenai ledakan gas elpiji – seringkali (dan mamang sudah mengamati hal ini sejak lama – bisa dilihat di sini) hanya diakibatkan kurang baiknya kualitas seal karet yang terpasang di tabung gas pada awal-awal masa pendistribusiannya. Tapi akhir-akhir ini mamang lihat sih sudah agak membaik – tapi tidak tertutup kemungkinan masih ada juga yang bocor. Biasanya mamang suka menyimpan karet tersebut untuk persiapan kalau-kalau dapet tabung dengan karet yang sudah kurang baik. Jadi sebelum menukar tabung gas yang kosong dengan yang isi, mamang seringkali mencabut dulu karet nya. Tapi secukupnya saja ya – jangan dicabut semua, nanti juragan gas kewalahan harus beli karet terus.
Lanjutkan membaca Mengamati Ledakan Gas Elpiji 3KG

Incoming search terms for the article:

Tags: ,